{"id":16921,"date":"2020-11-12T14:33:14","date_gmt":"2020-11-12T07:33:14","guid":{"rendered":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/?p=16921"},"modified":"2020-11-12T14:33:14","modified_gmt":"2020-11-12T07:33:14","slug":"toxic-positivity","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/toxic-positivity\/","title":{"rendered":"Toxic Positivity"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pernah gak sih, kalian melihat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">quotes<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang gak sesuai sama apa yang lagi kalian rasain?\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya tujuannya untuk menyemangati kalian padahal sebenarnya kalian lagi di situasi yang sedih atau stres. Atau mungkin kamu pernah menyemangati teman yang sedang sedih dengan kata kata \u2018Tenang, semua akan baik baik saja kok!\u2019\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau pernah kalian berarti pernah melakukan<\/span> <b><i>Toxic Positivity<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">!<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 14pt;\"><b><i>Toxic Positivity <\/i><\/b><b>Itu Apa Sih?\u00a0<\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dikutip dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Psychology Today, Toxic positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah sebuah konsep dimana ketika seseorang terlalu fokus pada hal-hal positif sehingga mengabaikan perasaan negatif yang sebenarnya wajar jika manusia merasakannya.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-16923\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-10.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"628\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-10.jpg 1200w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-10-300x157.jpg 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-10-768x402.jpg 768w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-10-1024x536.jpg 1024w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-10-600x314.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 14pt;\"><b><i>\u201cLho, kok menyemangati teman sendiri malah menjadi hal yang toxic?\u201d\u00a0<\/i><\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang gak ada yang salah dari menyemangati teman kita sendiri, tapi ada baiknya kita mendengarkan dan memberi tahu bahwa merasa sedih, stres, dan marah itu adalah hal yang wajar. Ketika kita terlalu banyak mengatakan hal-hal yang positif, sebenarnya gak bikin perasaan sedih atau marah itu bisa hilang tiba-tiba. Rata-rata\u00a0 orang yang sedang merasakan perasaan negatif, justru mencari validasi bahwa perasaan mereka itu wajar dirasakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama seperti hal negatif lainnya yang sering kamu temui, mengatakan hal positif secara berlebihan bisa jadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">toxic<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebenernya, manusia gak bisa memprogram\u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">diri hanya untuk merasakan hal hal yang positif seperti bahagia atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">excited.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, saat manusia menghindari perasaan negatif, hal tersebut justru malah memperburuk keadaan, lho! Ketika kamu berusaha menghindari perasaan negatif, justru perasaan itu akan jadi semakin lebih besar.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" class=\"alignnone size-full wp-image-16924\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-11.jpg\" alt=\"\" width=\"1200\" height=\"628\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-11.jpg 1200w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-11-300x157.jpg 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-11-768x402.jpg 768w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-11-1024x536.jpg 1024w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/blog-lingkaran_toxic-_201112-11-600x314.jpg 600w\" sizes=\"(max-width: 1200px) 100vw, 1200px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 14pt;\"><b><i>\u201cLalu, <\/i><\/b><b>gimana caranya biar kamu <\/b><b><i>gak kejebak dalam Toxic Positivity?\u201d<\/i><\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ubah mindsetmu! Gapapa lho, untuk ngerasa sedih atau kecewa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 12pt;\"><b>#YakaliGaBisa, Memanusiakan Perasaanmu Sendiri!\u00a0<\/b><\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa kata atau pemikiran yang bisa kamu ubah:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Aku tidak boleh gagal = Gagal adalah proses dari pertumbuhan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Move on<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dong! = Ini hal yang susah, tapi aku percaya sama kamu kok!<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Positive vibes only<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">! = Aku bisa bantu kamu apa?<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan berhenti sampai kamu mendapatkan apa yang kamu mau = Gapapa kok untuk rehat sebentar .<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jangan terlalu negatif deh! = Wajar kok kamu merasa kecewa dan sedih di situasi seperti ini.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, gimana gengs? Kamu pernah gak, ada di situasi seperti ini?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuk, ubah mindset kamu secara perlahan biar gak kejebak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Toxic Positivity<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Gak ada salahnya saat sedang ada di situasi buruk, kita merasakan sedih, kecewa, marah, dan perasaan negatif lainnya. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah gak sih, kalian melihat quotes yang gak sesuai sama apa yang lagi kalian rasain?\u00a0Misalnya tujuannya untuk menyemangati kalian padahal sebenarnya kalian lagi di situasi yang sedih atau stres. Atau mungkin kamu pernah menyemangati teman yang sedang sedih dengan kata kata \u2018Tenang, semua akan baik baik saja kok!\u2019\u00a0 Nah, kalau pernah kalian berarti pernah melakukan Toxic Positivity! &nbsp; Toxic Positivity Itu Apa Sih?\u00a0 Dikutip dari Psychology Today, Toxic positivity adalah sebuah konsep dimana ketika seseorang terlalu fokus pada hal-hal positif sehingga mengabaikan perasaan negatif yang sebenarnya wajar jika manusia merasakannya. \u201cLho, kok menyemangati teman sendiri malah menjadi hal yang toxic?\u201d\u00a0 Memang gak ada yang salah dari menyemangati teman kita sendiri, tapi ada baiknya kita mendengarkan dan memberi tahu bahwa merasa sedih, stres, dan marah itu adalah hal yang wajar. Ketika kita terlalu banyak mengatakan hal-hal yang positif, sebenarnya gak bikin perasaan sedih atau marah itu bisa hilang tiba-tiba. Rata-rata\u00a0 orang yang sedang merasakan perasaan negatif, justru mencari validasi bahwa perasaan mereka itu wajar dirasakan.\u00a0 Sama seperti hal negatif lainnya yang sering kamu temui, mengatakan hal positif secara berlebihan bisa jadi toxic. Sebenernya, manusia gak bisa memprogram\u00a0diri hanya untuk merasakan hal hal yang positif seperti bahagia atau excited.\u00a0 Bahkan, saat manusia&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":16922,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false},"categories":[600],"tags":[417,1463,1462],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16921"}],"collection":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16921"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16921\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16928,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16921\/revisions\/16928"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16922"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}