{"id":18815,"date":"2022-06-16T16:13:51","date_gmt":"2022-06-16T09:13:51","guid":{"rendered":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/?p=18815"},"modified":"2022-09-14T13:16:24","modified_gmt":"2022-09-14T06:16:24","slug":"is-branding-overrated","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/is-branding-overrated\/","title":{"rendered":"Is Branding Overrated? Menurut Circlenya lingkaran sih Enggak"},"content":{"rendered":"\n<p>Alo, gengs!<\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>\u201cIs branding overrated?\u201d<\/em><\/strong> mungkin terdengar seperti pertanyaan yang provokatif. Namun, ini bukan pertanyaan yang muncul begitu saja. Jika kita googling, anggapan <em>branding <\/em>itu overrated dapat dengan mudah kita temui. Josh Kaufman, penulis buku <em>The Personal MBA: Master the Art of Business<\/em>, bahkan menulis di blognya: <em>Ignore your \u201cbrand\u201d\u2014focus on building your reputation instead<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan apakah <em>branding <\/em>itu <em>overrated\u2014<\/em>dihargai terlalu tinggi<em>\u2014<\/em>didiskusikan di Discord \u201cCirclenya lingkaran\u201d pada Jumat, 10 Juni 2022. Beberapa rekan yang turut berbincang antara lain adalah <strong>David Irianto<\/strong> (Cofounder Greatmind.id &amp; Simpul Group), <strong>Fandy Susanto<\/strong> (Director at Table Six), <strong>Narawastu Indrapradana<\/strong> (Cofounder digital agency DOKI), <strong>Arif Hakim<\/strong> (Strategy Director of Pot Branding House), dan <strong>Wendy Pratama<\/strong> (Founder &amp; Headmaster of lingkaran).&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p> <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM.jpeg\"><img loading=\"lazy\" width=\"958\" height=\"718\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18825\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1.jpeg 958w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1-300x225.jpeg 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1-768x576.jpeg 768w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1-570x428.jpeg 570w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1-370x278.jpeg 370w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.36.34-PM-edited-1-152x114.jpeg 152w\" sizes=\"(max-width: 958px) 100vw, 958px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p> <\/p>\n\n\n\n<h2><strong><em>Is Branding Overrated?<\/em><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Menjawab cepat pertanyaan tersebut, David, Fandy, Nara, dan Arif sepakat menyebut: tidak. Meski demikian, dunia branding tidak sepenuhnya sempurna. Ada beberapa hal yang disebut membuat <em>branding <\/em>menjadi terlihat seakan-akan <em>overrated:<\/em><\/p>\n\n\n\n<ol><li><strong>Anggapan orang soal branding <\/strong>tercampur dengan <em>marketing<\/em>, sehingga dianggap \u201csama saja\u201d padahal aslinya beda.<\/li><li><strong><em>Branding overpopulated. <\/em><\/strong>Orang yang melakukan <em>branding <\/em>semakin banyak, dengan kemampuan yang berbeda-beda.&nbsp;<\/li><li><strong>Kompetisi brand tinggi, sehingga branding menjadi mahal. <\/strong>Semua brand berlomba-lomba melakukan yang terbaik, sehingga brandingnya menghabiskan banyak uang.<\/li><li><strong>Mungkin ada yang merasa kecewa <\/strong>karena setelah melakukan banyak hal di <em>branding<\/em>, efeknya tidak terasa. Ini kadang bukan kesalahan <em>branding<\/em>-nya, melainkan karena banyak faktor.<\/li><\/ol>\n\n\n\n<p>Dalam kondisi tersebut, yang dibutuhkan kemudian adalah <em>branding <\/em>yang \u201cpas\u201d. <em>Branding <\/em>sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan <em>founder<\/em>. Tanya dulu: apakah bisnis ini membutuhkan <em>branding <\/em>yang begitu komprehensif? Ketika bisnisnya tidak perlu, tapi <em>branding<\/em>-nya <em>overly designed<\/em>, wajar jika kemudian dia merasa <em>branding<\/em> itu <em>overrated<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><a href=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/smart-branding-arif-hakim.png\"><img loading=\"lazy\" width=\"976\" height=\"579\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/smart-branding-arif-hakim.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-18832\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/smart-branding-arif-hakim.png 976w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/smart-branding-arif-hakim-300x178.png 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/smart-branding-arif-hakim-768x456.png 768w\" sizes=\"(max-width: 976px) 100vw, 976px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p>Padahal, kadang <em>branding <\/em>itu sendiri tidak perlu mahal. <em>Branding <\/em>bisa dimulai dari ide atau keyakinan <em>founder<\/em>\u2014bukan <em>research <\/em>panjang yang mendalam. Kita bisa fokus ke keyakinan yang telah ada secara internal, baru kemudian biarkan itu tumbuh sendiri secara organik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMembuat segala sesuatu, kalau emang buat main-main, ya ngga usah mahal-mahal,\u201d ucap Fandy.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai konsultan, para praktisi branding juga sebaiknya menjelaskan arah branding yang dimaksud oleh klien. Berikan skenario dan implikasi-implikasi ke depannya. Lagi-lagi, ini pun tidak harus dilakukan semua, tapi bisa secara pelan-pelan, satu per satu, dan organik.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h2><strong><em>Owner <\/em>merasa tidak perlu branding<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Di pertengahan diskusi, seorang peserta Discord, Rani, menceritakan pengalamannya mengerjakan <em>branding <\/em>beberapa perusahaan. Menariknya, ia menemukan bahwa tidak semua <em>owner <\/em>mau brandnya diberi visual dan verbal yang konsisten untuk <em>branding<\/em>\u2014menurut owner tersebut, konsistensi semacam itu tidak kreatif. Selain itu, ada juga <em>owner-owner<\/em> yang tidak merasa perlu <em>branding<\/em>, karena tanpa <em>branding <\/em>pun barang jualannya sudah laku.<\/p>\n\n\n\n<p>Menjawab Rani, Nara menyebut bahwa hal itu wajar terjadi, terutama ketika <em>sales <\/em>sedang baik-baik saja. Namun, jika memang mau berusaha memberi perspektif lain, mungkin kita bisa memberikan sejumlah studi kasus atau contoh yang mana sales perusahaan naik karena <em>branding<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, menurut Fandy, \u201cberubah-ubah\u201d itu mungkin memang karakter dari <em>brand<\/em> yang disebut Rani. Belum tentu kalau visual dan verbalnya dibikin konsisten, sebuah brand menjadi lebih baik\u2014contohnya saja MUJI yang saat ini sudah tutup di Indonesia. Alhasil, yang bisa dilakukan mungkin bukan mengubah mindset, melainkan \u201cdengarkan dan kasih masukan\u201d.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Obrolan kemudian berlanjut ke persoalan <em>branding<\/em> di mata <em>owner<\/em>. <em>Owner <\/em>tertentu kadang memang bisa kurang suka dengan <em>branding<\/em>, karena bikinnya capek dan enggak kelihatan salesnya. Baru ketemuan pertama kali ngomongin <em>branding<\/em>, ternyata yang dipikirkan sudah harus 2.000 langkah ke depan\u2014dan itu mahal. Hal semacam ini seharusnya jangan sering-sering terjadi. Klien atau <em>owner <\/em>sebaiknya jangan dibikin capek duluan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Branding<\/em> itu sendiri yang penting adalah <em>core<\/em>-nya. Kadang, tidak semuanya perlu diatur dan dibikin seragam. Apalagi pada zaman sekarang ketika medium terus berubah. Kalau kita kaku, nantinya justru akan bingung sendiri menghadirkan <em>brand<\/em> kita dalam berbagai konteks. Jadi tidak ada salahnya berjalan organik, karena branding memang tidak melulu harus rumit. Untuk itu, kita bisa bedah lagi, mana yang core dan mana yang atribut dari brand kita.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-scaled.jpg\"><img loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"577\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-1024x577.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18828\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-1024x577.jpg 1024w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-300x169.jpg 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-768x433.jpg 768w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-1536x866.jpg 1536w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-2048x1155.jpg 2048w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/blog-01-374x210.jpg 374w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<h2><strong><em>Branding vs Marketing?<\/em><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Poin menarik berikutnya dalam obrolan ini adalah pertanyaan dari Hamdan. Ia bertanya ketika branding berjalan, dan kemudian ternyata <em>sales <\/em>justru turun, kira-kira siapa yang harus disalahkan: <em>branding <\/em>atau <em>marketing<\/em>? Kemudian untuk branding sendiri, jika bukan <em>sales<\/em>, tolok ukur apa yang kemudian harus dipakai untuk tahu bahwa branding berjalan ke arah yang tepat?<\/p>\n\n\n\n<p>Nara menyebut bahwa kedua belah pihak tidak bisa disalahkan semudah itu. <em>Branding <\/em>itu membangun <em>perceived value<\/em>. \u201cKalau <em>price<\/em>-nya di atas <em>perceived value<\/em> ya ngga kena,\u201d ucapnya. Sementara untuk mengukur <em>branding<\/em>, kita sendiri bisa menggunakan <em>researcher<\/em>. Yang diukur itu <em>brand awareness, brand positioning,<\/em> dan lain-lain.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1.jpeg\"><img loading=\"lazy\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1-1024x576.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-18827\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1-1024x576.jpeg 1024w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1-300x169.jpeg 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1-768x432.jpeg 768w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1-374x210.jpeg 374w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/WhatsApp-Image-2022-06-16-at-5.35.37-PM-1.jpeg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p>Nara kemudian juga menceritakan apa yang didapatnya dari buku <em>The Long and the Short of It<\/em>. Dalam buku itu, yang dimaksud dengan <em>\u201cthe short\u201d <\/em>adalah <em>performance marketing<\/em>, dan ini proporsinya 40 persen. Adapun <em>\u201cthe long\u201d<\/em>, 60 persennya, adalah membangun <em>loyalty<\/em>. Intinya keduanya harus diperhatikan untuk <em>win battle dan win the war<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Memperoleh <em>brand loyalty<\/em> sekarang adalah hal yang berat. Sulit untuk membayangkan, misalnya, kita memiliki <em>brand equity<\/em> &amp; <em>brand loyalty<\/em> seperti Nike atau Apple. Di tengah kondisi tersebut, kita perlu melihat perjalanan <em>branding <\/em>sebagai sebuah maraton. Kita perlu menjadi lebih peka dengan kondisi-kondisi yang ada. Apa yang dipentingkan generasi sekarang? Lalu bagaimana <em>brand expression<\/em> bisa memenuhi itu? Ini semua adalah pekerjaan berikutnya yang dibutuhkan agar <em>brand <\/em>kita <em>survived <\/em>atau bahkan tumbuh.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator\"\/>\n\n\n\n<p>Untuk mengikuti obrolan di Discord lainnya,<em> <\/em>tunggu informasinya di <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/lingkaran.co\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Instagram lingkaran<\/a>, ya! <\/p>\n\n\n\n<p>Untuk waktu dekat ini, ada obrolan soal pekerjaan penulis dalam diskusi <em><strong>&#8220;Everybody&#8217;s Got Something to Write&#8221;<\/strong><\/em> bersama <em>expert-expert <\/em>di bidangnya:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><a href=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/discord-01-3.png\"><img loading=\"lazy\" width=\"834\" height=\"417\" src=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/discord-01-3.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-18819\" srcset=\"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/discord-01-3.png 834w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/discord-01-3-300x150.png 300w, https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/discord-01-3-768x384.png 768w\" sizes=\"(max-width: 834px) 100vw, 834px\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n\n<p><a href=\"http:\/\/bit.ly\/daftareverybodywrites\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Klik di sini untuk daftar ya!<\/a><\/p>\n\n\n\n<p>See you! \ud83d\ude4c<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alo, gengs! \u201cIs branding overrated?\u201d mungkin terdengar seperti pertanyaan yang provokatif. Namun, ini bukan pertanyaan yang muncul begitu saja. Jika kita googling, anggapan branding itu overrated dapat dengan mudah kita temui. Josh Kaufman, penulis buku The Personal MBA: Master the Art of Business, bahkan menulis di blognya: Ignore your \u201cbrand\u201d\u2014focus on building your reputation instead. Pertanyaan apakah branding itu overrated\u2014dihargai terlalu tinggi\u2014didiskusikan di Discord \u201cCirclenya lingkaran\u201d pada Jumat, 10 Juni 2022. Beberapa rekan yang turut berbincang antara lain adalah David Irianto (Cofounder Greatmind.id &amp; Simpul Group), Fandy Susanto (Director at Table Six), Narawastu Indrapradana (Cofounder digital agency DOKI), Arif Hakim (Strategy Director of Pot Branding House), dan Wendy Pratama (Founder &amp; Headmaster of lingkaran).&nbsp; Is Branding Overrated? Menjawab cepat pertanyaan tersebut, David, Fandy, Nara, dan Arif sepakat menyebut: tidak. Meski demikian, dunia branding tidak sepenuhnya sempurna. Ada beberapa hal yang disebut membuat branding menjadi terlihat seakan-akan overrated: Anggapan orang soal branding tercampur dengan marketing, sehingga dianggap \u201csama saja\u201d padahal aslinya beda. Branding overpopulated. Orang yang melakukan branding semakin banyak, dengan kemampuan yang berbeda-beda.&nbsp; Kompetisi brand tinggi, sehingga branding menjadi mahal. Semua brand berlomba-lomba melakukan yang terbaik, sehingga brandingnya menghabiskan banyak uang. Mungkin ada yang merasa kecewa karena setelah melakukan banyak&#8230;.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18816,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_mi_skip_tracking":false},"categories":[1562,598],"tags":[1563,376],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18815"}],"collection":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18815"}],"version-history":[{"count":13,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18815\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18859,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18815\/revisions\/18859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18815"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18815"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lingkaran.co\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18815"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}