Jaihan Syifa Salsabilla

‘Hard work pays off’, pasti beberapa dari kalian sudah tidak asing lagi dengan kalimat tersebut. Yap, bahwa kerja keras pasti akan terbayarkan oleh hasil yang setimpal. Kerja keras memang merupakan hal yang baik, jika masih dilakukan dalam batas wajar. Namun, kalian juga harus tau, kalau kerja keras secara terus menerus tanpa henti justru akan membuat kehidupan kita menjadi toxic, loh!
Setiap hari menghabiskan waktu dari pagi sampai hampir pagi lagi, belasan jam duduk di depan laptop, end meeting dan lanjut join meeting lainnya, dan kamu masih merasa kurang work hard dengan apa yang sudah kamu lakukan? Yash, Welcome to Hustle Culture!
Hustle culture adalah suatu tren dimana kamu merasa selalu ingin bekerja secara terus-terusan, sampai menjadikan tujuan hidup kamu berpusat pada pekerjaan. Kamu akan selalu ingin terus produktif dan aktif tanpa memikirkan hal penting lainnya, seperti kesehatan fisik dan juga mental yang kamu punya. Penganut hustle culture ini selalu merasa apa yang ia lakukan tidak pernah cukup untuk meraih kesuksesan. Udah sesuai sama lagu Ariana Grande, ‘Almost is never enough..’
Ciri utama dari seorang hustlers atau penganut hustle culture ini adalah mereka merasa tidak tenang atau merasa bersalah jika waktunya tidak diisi dengan bekerja. Mereka berpendapat bahwa mereka adalah orang-orang yang produktif. Padahal, keduanya jelas berbeda. Produktivitas diartikan sebagai cara menghasilkan output yang berkualitas dalam waktu singkat, sedangkan hustlers selalu berusaha bekerja dalam durasi yang panjang, tanpa memperhatikan kualitas output yang berhasil ia raih.
Menurut hasil studi yang dilakukan oleh peneliti Stanford University, John Pencavel, durasi jam kerja yang tepat agar produktivitas pekerja menjadi optimal adalah 7 jam per hari. Hal ini jelas sangat bertentangan dengan durasi kerja para hustlers yang menghabiskan waktu kerja lebih dari 12 jam per harinya. Hasil studi di atas juga menegaskan bahwa penambahan jam kerja bukan solusi untuk meningkatkan produktivitas. Bahkan, terlalu lama menghabiskan waktu untuk bekerja dapat menurunkan daya kreatif dan inovatif kita, loh!
Salah satu hal yang membuat hustle culture menjadi sangat toxic adalah kenyataan bahwa tren atau budaya ini hanya berfokus pada masa depan dan tidak memperhitungkan saat ini. Penganut hustle culture seolah-olah harus memilih antara kehidupan dan pekerjaan. Oleh karena itu, diperlukan adanya keseimbangan antara kedua aspek tersebut atau yang lebih dikenal dengan konsep “work-life balance.”
Perlu kamu ingat bahwa, kerja keras tidak sama dengan kerja berlebihan. Banyak banget orang-orang yang aktif ikut kegiatan sana sini demi untuk mengembangkan skill, menambah pengalaman, biar bisa lebih produktif, dan lainnya. Namun, yang mengerikannya adalah ia masih juga merasa belum cukup dengan segala kesibukan yang sedang ia jalani.
Orang-orang yang menerapkan hustle culture dalam kehidupannya biasanya akan bekerja lembur hampir setiap harinya. Mereka membanggakan fakta bahwa tidak mendapat waktu tidur karena dihabiskan untuk bekerja, mengaku lelah tapi tetap memaksakan diri untuk bekerja, melakukan berbagai cara seperti meminum kopi agar tetap terbangun untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan mereka juga beranggapan bahwa ketika mereka beristirahat itu sama saja dengan membuang-buang waktu.
Daripada harus kerja berlebihan terus-terusan, akan lebih baik jika kita bekerja pintar. Artinya, dalam bekerja kita harus mempertimbangkan aspek lain dalam hidup kita, seperti kesehatan tubuh dan mental, memiliki ‘me time’ dan juga quality time dengan orang-orang terdekat kita. Jadi jangan sampai kita terjebak di hustle culture yang meresahkan ini, ya, teman-teman!
Referensi
Fauziah, A. Hustle Culture: Is it motivating or toxic? Medium. https://medium.com/@asmafauziah/hustle-culture-is-it-motivating-or-toxic-48ebed216380
Windi, A. Hustle Culture Menjadi Lifestyle dan Personal Branding Gila Kerja Ala Millenial! Hipwee. https://www.hipwee.com/narasi/hustle-culture-menjadi-lifestyle/