Hustle Culture, Baik atau Buruk ?

Alo, Learners ! Pasti kalian tidak asing lagi mendengar “Hustle Culture”, kan ? Di era serba cepat ini, kita ada di situasi yang sangat kompetitif. Tak dapat dipungkiri, banyak stigma orang yang bekerja paling keras lah yang akan mencapai kebahagiaan, prestasi terbaik, hingga kebebasan finansial.  Hustle Culture dianggap keren bagi sebagian orang,  bahkan dinormalisasi. Jam kerja yang panjang,tenggat waktu terbatas, besarnya tuntutan pekerjaan, hingga diliputi rasa gelisah merupakan indikator hustle culture. Orang-orang yang bekerja dengan cara seperti ini disebut work addict atau gila kerja.

Hustle culture dapat terjadi di lingkungan manapun, mulai dari pendidikan hingga pekerjaan. Tak jarang ditemui, orang-orang yang gila kerja ini memang memiliki waktu istirahat singkat. Mereka seperti bekerja atau belajar setiap waktu, bahkan hingga akhir pekan, dan bila tidak melakukan apapun,bersantai, atau melakukan hobi justru akan merasa gelisah dan stres karena tidak melakukan “hal berguna” apapun. Menurut survei yang dilakukan The Finery Report, 83,8% responden menormalisasi lembur atau bekerja melebihi jam kerja umum sementara 69,6% mengaku bahwa mereka rutin bekerja di akhir pekan. Bahkan, 60,8% merasa bersalah ketika mereka tidak bekerja lebih lama dari semestinya. Hustle culture dapat membiasakan orang untuk bekerja 75-100 jam per minggu, padahal standar orang bekerja cukup 40 jam per minggu.

Di sisi lain, terdapat beragam dampak buruk yang ditimbulkan budaya kerja keras dan cepat ini seperti kesehatan fisik dan mental yang rendah, hubungan kerja yang buruk, hingga merusak relasi dalam keluarga. Seseorang akan cenderung telat makan, kurang aktivitas fisik dan waktu istirahat yang cukup sehingga rentan mengalami depresi, serangan jantung, obesitas, dan penyakit tidak menular lainnya. Hustle culture pun dapat membangun beragam reputasi di lingkungan. Ketika kamu membangun koneksi dan berkompetisi satu sama lain dalam proyek atau kegiatan apapun, secara konstan pasti saling membicarakan di belakang alias gosip ! Hal ini berpengaruh pada pemilihan partner kerja di kemudian hari. Hanya orang terbaik yang akan “fit” dengan grup/lingkup pertemanan tertentu. Dampaknya akan terlihat pada pandangan subjektif terhadap suatu ide atau keputusan penting yang akan kalian ambil !

“Trus gimana dong caranya biar terhindar dari hustle culture ? Realitanya kita emang kayaknya gabisa nolak untuk hidup di kondisi seperti ini, kan ?”

Memang benar, tapi kita bisa menyesuaikan diri untuk bekerja lebih cerdas, bukan hanya kerja keras. Nah oleh karena itu, ada beberapa tips nih yang bisa kamu coba :

  1. Manajemen Waktu

Tahu di mana, bagaimana, dan dengan siapa kamu menghabiskan waktu sangatlah penting. Mengaudit waktu akan menunjukkan kamu  jika kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk sesuatu yang tidak seharusnya dan apakah kamu telah menghabiskan cukup waktu untuk hal-hal yang dapat menggerakkan produktivitasmu.

  1. Kombinasikan Self-Acceptance dan Self-Growth

Daripada kamu mengikuti tuntutan mencapai target besar untuk membuktikan kinerja dan menyenangkan orang lain, bersyukur dan rayakanlah setiap pencapaian dalam langkahmu.

  1. Belajar untuk mengatakan “Tidak”

Siapa nih yang sering merasa “ga enakan” sama orang lain ? Nyatanya, semua orang memiliki batas masing-masing. Kamu ada bukan untuk semuanya. Inilah saatnya untuk tidak memaksakan mengambil banyak tawaran pekerjaan diluar kemampuanmu. Belajar untuk memilah, mengeliminasi, dan katakan “tidak” apabila kamu rasa tidak mampu melakukannya.

  1. Sadari

Salah satu cara terbaik untuk melepaskan diri dari hustle culture adalah dengan berhenti menjadi bagian dari masalah. Renungkan dan tanya diri sendiri apakah kata-kata dan perilakumu berkontribusi pada lingkungan yang kacau dan sangat cepat ini serta berfokus pada pencapaian tanpa henti dengan segala cara. Jika kamu pemimpinnya, evaluasi strategi awal dan atur ritme kerja tim dengan hati-hati.

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang akrab disebut work-life balance sungguh penting. Hustle culture mengedepankan visi di masa depan dengan mengorbankannya di hari ini. Tentu hal ini tidak selamanya berdampak buruk asalkan kita mampu bekerja lebih cerdas bukan hanya semakin keras. Dorongan dan goal yang jelaslah yang mampu membantu meraih mimpi kita. Ketika kita dapat menghindari efek samping hustle culture itu dan menyeimbangkan gairah di tempat kerja dengan area lain seperti kesehatan dan hubungan kita, kemungkinan besar kita akan menemukan hal yang jauh lebih keren daripada hype hustle culture itu sendiri.

 

 

 

 

REFERENSI

Budaya gila kerja dan generasi yang kelelahan — The Finery Report

Five Ways To Move Past Hustle Culture And Work Smarter, Not Harder (forbes.com)

How ‘Hustle Culture’ Can Make Or Break Our Life And Wealth (forbes.com)

Furnham, A. (2008). Work Addictions. In Management Intelligence. Palgrave Macmillan UK. https://doi.org/10.1057/9780230227439_67

Mehta, R. (2017). “Hustling” in film school as socialization for early career work in media industries. Poetics, 63. https://doi.org/10.1016/j.poetic.2017.05.002

Share Now

Alvita Karina Putri

More Posts By Alvita Karina Putri

Related Post